“Koprol”,  demikian kata itu menjadi  populer dalam bahasa keseharian masyarakat Gorontalo beberapa tahun terakhir ini. Kata yang sebelumnya jarang dituturukan orang, karena maknanya sempit, terbatas penggunaannya dalam bahasa olah raga saja, namun kini, kata tersebut telah digunakan dalam beragam momen dan  situasi, bahkan fenomenanya menembus hampir seluruh strata masyarakat kita.
“Koprol” yang sesungguhnya berarti “gerakan berguling kedepan” (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008), berubah menjadi kata yang berbeda jauh dari arti sebelumnya (semantis). Akhir-akhir ini familiar di telinga kita kata koprol dibahasakan, seperti: “pejabat koprol”, “proposal koprol”, “program koprol”, “pertanyaan koprol”, “cerita koprol”, “politik koprol”, aspirasi koprol dan seterusnya… atau dalam kalimat yang lebih panjang, misalnya: “kalau ingin jabatan tertentu, kenapa harus koprol?”.
  

Mencermati contoh dan pemisalan penggunaan kata koprol pada kalimat-kalimat di atas, mendekatkan kita pada terminologi baru dari kata koprol yang secara sederhana dapat diartikan: upaya mempengaruhi. Namun berbeda dengan definisi kepemimpinan. Dalam beberapa teori menyebut kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi(Mis: Stephen J.Carrol & Henry L.Tosj (1977) atau Harold Koontz (1989). Walaupun sama-sama berati cara mempengaruhi, namun kepemimpinan berusaha mempengaruhi bawahan, tapi koprol adalah cara bawahan untuk mempengaruhi pimpinan/atasan. Sayangnya, definisi terakhir ini juga belum cukup memadai untuk digunakan. Karena sering terdengar celetukan, “pimpinan koprol”, atau “politisi koprol kepada rakyat”. Untuk menghindari penyamaan kata “koprol” ini dengan kata “menjilat”, mungkin juga dapat diartikan sebagai “atraksi”, entah itu sandiwara atau serius untuk menarik perhatian atasan ataupun bawahan dengan cara memuji, mengelu-elu guna tujuan tertentu.

Memungkinkan kita semua bisa mendefinisikan sendiri arti dan makna kata “koprol” itu. Tetapi, yang paling menarik adalah kata “koprol” asosiasinya tidak jauh dari bahasa birokrasi dan politik. Entah siapa dan sejak kapan, kemudian kata tersebut menjadi sedemikian populer. Penulis meyakini kata ini awalnya merupakan bahasa simbolik untuk mengaburkan situasi rahasia dan negatif menyertai makna sesungguhnya yang ini disampaikan oleh penuturnya. Kurang lebih sama dengan kata “apel malang” dan “apel washington” yang digunakan untuk mengaburkan “uang rupiah” dan “uang dolar” dalam kasus korupsi. Namun apapun itu, kini “koprol” menjadi kata fenomenal dan telah menempatkannya dalam terminologi birokrasi dan politik Gorontalo.

Jika kata koprol diterima menjadi sebuah terminologi baru dalam praktek serta  komunikasi birokrasi dan politik, maka kita sulit menghindari dari tuduhan negatif. Betapa tidak, akibat dari koprol itu seseorang dengan bermodal “mencari muka” akan mencapai tujuan politik ataupun kariernya. Kurang menjadi soal ketika tujuan yang didapat dengan cara koprol tersebut berbanding lurus dengan kualitas dan kapabilitas. Tetapi menjadi sesuatu yang lain bila hasil koprol tersebut melahirkan kebijakan ataupun pilihan yang tidak sesuai dengan aturan dan regulasi dalam patron birokrasi dan politik.

Di tengah harapan untuk mereformasi birokrasi dan menata iklim politik yang lebih baik, koprol menjadi salah satu momok yang  menghantui prinsip egaliter pemerintahan dan demokrasi substantif. Koprol ini adalah bahasa yang baru, namun pada tataran praktek, sebenarnya koprol adalah cara-cara sudah berlangsung lama.

Memaknai tulisan ini, saya tiba pada satu hipotesa hubungan antara jabatan karier dan kekuasaan politik. Birokrat cenderung menggunakan cara-cara politis untuk meningkatkan kariernya, sementara penguasa cenderung menawarkan jabatan tertentu untuk memuluskan hasrat politiknya. Hipotesa ini merupakan asal mula dari lahirnya nepotisme. Sebuah paktek simbiosis mutualisme yang diharamkan oleh undang-undang korupsi, kolusi dan nepotisme (baca: KKN).
Lumrah suatu zaman melahirkan tata bahasa baru. Namun jika kita merenungi peribahasa yang menyebutkan “bahasa menunjukkan bangsa”, maka nyatalah koprol merupakan langkah mundur dalam sistem birokrasi dan politik kita. ( dikutip dari blog saya )

Gbr : Ilustrasi
Sesugguhnya sebelum konsepsi modern mengatur tatanan kehidupan masyarakat, jauh sebelum itu sosiokultur mayarakat di Indonesia telah memiliki tradisi dalam mekanisme keterlibatan dalam pembangunan. Nenek moyang kita memiliki konsep gotong royong sebagi bentuk kerja sama dalam melaksanakan suatu kegiatan, entah itu kegiatan lintas masyarakat ataupun antar masyarakat dengan negara (pemerintah). Leluhur Gorontalo misalnya, memiliki konsep huyula ataupun tiayo dalam membalut kebersamaan untuk berkontribusi nyata dalam pembangunan. Daerah lain juga memiliki tradisi yang hampir sama. Saat ini kearifan-kearifan nasional dan lokal di atas, dimodifikasi dan disesuaikan dengan konteks kemajuan Iptek dan zaman yang kemudian melahirkan terminologi baru. Kini “gotong royong”, “hyula” dan “tiayo” berganti nama menjadi “partisipasi”. Walaupun secara istilah telah berganti nama tapi secara substansial, nilai-nilai tidak berubah bahkan meningkat karena sentuhan manajemen modern. Kalau dulu diminta maupun tidak oleh pemerintah, masyarakat senantiasa bahu-membahu untuk membangun karena ada masalah dan kepentingan bersama memajukan kelompok atau komunitas. Kini model itu diorganisir, difasilitasi serta dimanej agar kerja sama menjadi efektif dan efisien. Partisipasi masyarakat model klasik kini diperluas tidak sebatas pada pelaksanaan kegiatan semata, tetapi telah melingkupi seluruh proses pembangunan (sejak dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan pengawasan). Bentuk paling nyata dari keterlibatan masyarakat tingkat bawah dalam perencanaan pembangunan saat ini sering kita dengar dengan model Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). Tak tanggung-tanggung gagasan musyawarah ini digali bahkan dari tingkat dusun. Tak ada yang masalah dengan itu semua!. Keresahan masyarakat desa muncul setelah diskusi panjang bahkan berujung perdebatan sengit “di arena” Musrenbang berakhir dengan kenyataan “pepesan kosong”. Prioritas pembangunan melalui usulan Musrenbag-Des yang dikawal oleh para delegasi untuk diperjuangkan di tingkat kecamatan sampai dengan kabupaten, “menguap” di tengah jalan, entah “disunat” oleh siapa?. Dengan tidak mengesampingkan ada juga hasil Musrenbang-Des yang terakomodir dalam APBD, namun lebih banyak dari dokumen tersebut sekedar tumpukan berkas. Ilusi Musrenbang Kekecewaan yang terus berulang dari fakta “pepesan kosong“ Musrenbang-Des berefek domino terhadap partisipasi masayarakat. Tidak mengherankan disejumlah desa Musrenbang-Des mejadi ritual yang kian sepi. Padahal tiap kali pelaksanaan Musrenbang-Des, sesaat itu pula terbetik harapan masyarakat untuk mengatasi persoalan desa mendapatkan energi dahsyat. Sayangnya energi itu melemah seiring dengan tidak terakomodrinya prioritas usulan dalam APBD. Lebih aneh lagi ada beberapa desa yang mengusulkan satu kegiatan tidak hanya sekali dilakukan, tetapi dihampir setiap tahun pelaksanaan Musrenbang-Des, namun sampai berakhirnya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM-Des) lima tahunan, lagi-lagi usulan tersebut tak pernah terrealisasi. Sejumlah alasan mengapa usulan dari Musrenbang-Des seakan ilusi. Pertama: Antara kebutuhan Desa dengan ketersediaan anggaran pemerintah daerah tidak sebanding. Jika ditotalkan seluruh usulan dari masing-masing desa bisa mencapai angka triliun. Di sisi yang lain kemampuan anggaran pemerintah daerah hanya dikisaran angka miliaran. Itu pun tidak semuanya untuk belanja pembangunan. Sebagian besar APBD dialoksikan untuk belanja aparatur/pegawai. Sehingga sangat wajar hanya sebagian kecil saja dari usulan Musrenbang-Des dapat di realiasikan. Kedua: Usulan-usulan yang disampaikan desa cenderung tidak relevan (bersesuaian) dengan program dan kegiatan Pemerintaha Daerah yang tergambar dari RPJM kabupaten/kota. Sementara pemerintah berupaya untuk menjalankan program dan kegiatan dalam RPJM tersebut untuk mewujudkan visi dan misi. Kenyataan ini mengharuskan Satuan Kerja Perangka Daerah (SKPD) mengeliminir usulan-usulan hasil Musrenbang-Des yang tidak berkorelasi dengan tujuan pemerintahan. Ketiga: tidak kuatnya argumentasi prioritas usulan sehingga pengambil keputusan tidak memiliki landasan keyakinan untuk mengakomodir usulan tersebut kedalam APBD. Terkadang pula terjadi inkonsistensi usulan yang disampaikan oleh masyrakat desa melalui jalur Musrenbang-Des dengan keinginan masyarakat yang disampaikan kepada para anggota legislatif melalui Jaringan Aspirasi Masyarakat. Pada kenyataan yang seringkali terjadi perencaaan melalui jalur politik (oleh anggota DPRD) yang Ketiga alasan di atas cukup normatif untuk menawar rasa kecewa sekaligus rasa ingin tahu masyarakat yang terus mempertanyakan “nasib” usulan dari Musrenbang-Des. Dan tidak hanya itu, sejumlah penelitian juga menujukkan ternyata APBD seringkali diwarnai oleh keinginan (baca: opportunistik) sebagian elit eksekutif maupun legislatif terutama untuk kepetingan proyek, dan atau kepetingan politik. Tetapi apapunm alasannya, jawaban tersebut di atas belumlah utuh ketika sebagian kita tidak memahami bahwa satu-satunya kemampuan pemerintah desa dalam menyelesaikan urusan pemerintahan dan pembangunan adalah Anggaran Pembangunan dan Belanja Desa (APB-Des) itu sendiri, dan tidak ada selebihnya. Pemahaman ini mempertegas bahwa usulan melalui Musrenbang-Des tersebut adalah harapan sekaligus permohonan kepada pemerintah supra desa yang tak pasti adanya. Sesaat setelah kita memahami ketidakpastian “nasib” usulan melalui Musrenbang-Des melalui APBD dan satu-satunya yang dapat memberikan kepastian realiasi usulan tersebut hanyalah APB-Des, maka sementara waktu kita bisa bersimpulan bawah sekeras apapun aspirasi yang disampaikan masyarakat melalui Musrenbang-Des, maka aspirasi tersebut tetaplah “mandul” dan tak memiliki daya dobrak mempuni bagi para pengambil keputusan. Simpulan ini sekaligus mengantarkan kita pada pertanyaan apa yang semestinya dilakukan oleh desa untuk memperkuat keberadan usulan yang dibahas secara partisipatif oleh masyarakat agar tidak sekedar ilusi? Setetes Inovasi Sejak awal Pemerintah melakukan penguatan terhadap keuangan desa, dengan membuat kebijakan Alokasi Dana Desa (ADD) yakni bagian dari dana perimbangan keuangan yg diterima pemerintah daerah sebesar 10% untuk desa. Bagi pemerintah daerah yang memiliki pendapatan besar tentu berimbas pada ADD yang besar pula. Tetapi sebaliknya daerah-daerah dengan pendapatan rendah, maka ADD untuk masing-masing desa juga rendah, dan inilah yang paling banyak. Secara rata-rata ADD untuk setiap desa tidak lebih dari dua ratus juta pertahun. Angka ini masih dibagi dengan biaya aparatur yang ada didesa. Praktis anggaran untuk pembangunan kurang dari seratus juta per tahunnya. Minimnya anggaran untuk pembangunan desa yang tercermin dari ADD, menempatkan Musrenbang sebagai tempat penampungan mimpi-mimpi desa menjadi wilayah yang diperebutkan dengan lobi-lobi anggaran. Sebagian permerintah daerah (kabupaten/kota) di Indonesia telah mengendus kelemahaman sistem Musrenbang, dan memahami dampak buruk dari kelemahan tersebut terahadap tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Solusi merujuk pada pemikiran untuk memperkuat basis penerimaan desa melalui kebijakan-kebijakan pro desa. Kabupaten Sumedang misalnya, pada Tahun 2007 membuat satu kebijakan yang mereka sebut dengan Pagu Indikatif Kewilayahan (PIK). Adalah sejumlah patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada kecamatan berbasis kewilayahan yang penentuan alokasi belanjanya ditentukan oleh mekanisme partisipatif melalui Musrenbang Kecamatan dengan berdasarkan kepada kebutuhan dan prioritas program yang mendesak berdimensi strategis kewilayahan. Mengokohkan kebijakan tersebut, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang merumuskannya dalam bentuk Peraturan Daerah. Dimana dari total PIK tersebut didistribusikan dengan metode 25% dibagi rata kesemua kecamatan dan 75% dibagikan secara proporsional, menggunakan sejumlah variabel seperti sosial,ekonomi dan geografis. Tahun 2012 Kabupaten Gorontalo membuat terobosan dengan program satu kecamatan satu miliar (1k1m). Kebijakan ini kurang lebih sama dengan semangat Kabupaten Sumedang untuk mereduksi kekurangketerjaminan usulan prioritas desa dalam praktek Musrenbang sebelum-sebelumnya. Namun berbeda dengan Sumedang, Progaram 1k1m Kabupaten Gorontalo belum diformulasi dalam regulasi daerah. Sementara dalam distribusinya menggunakan pendekatan pemerataan untuk tiap kecamatan sedangkan distribusi ke setip desa diserahkan kepada masing-masing Camat. Jika program ini berkelanjutan, tentu merupakan langkah maju namun perlu pembenahan disejumlah hal. Ditengah serotan aspirasi masyarakat desa yang terkadang terabaikan oleh keterbatasan pemerintah, tidak serta merta pisimisme itu dibiarkan. Percayalah! Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sesungguhnya terus melakukan upaya dan usaha. Semoga saja tidak sebatas wacana tentang perjuangan 10% APBN untuk pemerintah desa atau perjuangan sejumlah elemen tentang one million one vilage (satu miliar satu desa). Semabari menggelayut mimpi kesejahteraan masyarakat desa, kita tetap besabar… :\

Ancaman serangan dari penjahat Dunia Maya tidak hanya berlaku di Negara-negara ataupun website pemerintah Israel seperti yang heboh beberapa bulan kemarin, akan tetapi menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada tahun 2012 ini, sebanyak 50 persen website yang diretas menggunakan domain go.id atau yang selama ini digunakan untuk instansi pemerintah. 
Aksi para Hacker ini tidak pandang bulu rupanya. Ketika di akses pada tanggal 28 Desember 14.40 waktu setempat, Website Resmi Pemerintah Kabupaten Pohuwato inipun tak luput dari serangan. Dalam aksi seperti biasanya, para “hacker” meninggalkan identitasnya yang bertuliskan “HighTech Brazil HackTeam” dan link akun twitternya @Thiago_0k . 
Sampai informasi ini di posting, kondisi Website Resmi Pemkab Pohuwato yang berlamatkan di www.pohuwatokab.go.id serta subbdomainnya ( Dinas PU, KPTSP, Diknas dll ) masih berlatar HITAM dan bergambar DRACULA
Hubungan Kabupaten Pohuwato dan Negara Brazil apa yah ?? apa karena urusan Sepak Bola ? sehingga “kawan-kawan” Brazil men”deface” situs resmi Pemkab Pohuwato. Hmm..biarlah ! urusan hubungan kedua wilayah serahkan pada yang lain. Urusan kita adalah membedah, cari solusi untuk membantu Pemkab Pohuwato / administratornya. Kalo perlu  mengucapkan “Thanks” dan tidak menyalahkan “mereka”, karena telah mengingatkan betapa pentingnya manajemen penerapan Teknologi Informasi dilingkungan Pemerintah di era saat ini. “Thanks” karena telah mengingatkan bahwa TI tidak parsial, TI bukan sebatas beli Bandwidth, akan tetapi TI harus dilihat secara utuh, ada SDM, Infrastruktur Jaringan, Sistem Aplikasi, Infrastruktur Data Informasi dan Manajemen serta Kebijakan,prosedur & Pendanaan.

“Bukan yang terkuat atau yang paling cerdas yang dapat ‘survive’, tetapi dia yang tanggap terhadap perubahan”. Charles Darwin 


 http://forum.pohuwato.info
komunitas fotografi pohuwato
Adalah Komunitas fotografer yang berdomisili disalah satu provinsi gorontalo yaitu Kabupaten Pohuwato yang bernaung dibawah panji BlitZ-Komunitas Fotografer Pohuwato, untuk kali ke-2 menggelar event yang cukup menghentak di Kabupaten Pohuwato Provinsi Gorontalo.

Komunitas Fotografer yang berdiri pada bulan Juni 2012 kemaren ini, telah mengelar kegiatan internal yaitu Lomba Photo dengan tema “human interest” yang disingkronisasikan dengan Perayaan lebaran Ketupat yang di pusatkan di Tugu Panua-Marisa Kabupaten Pohuwato.
Mencermati kondisi , apresiasi pemerintah kabupaten pohuwato dan antusias anggota komunitas serta pemerhati masalah photography khususnya , Pemerintah kabupaten Pohuwato menggandeng BltZ-KFP untuk memeriahkan peringatan 2 (dua) tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati “SYAH” (Syarif Mbuinga-Amin Haras) yang puncak acaranya dilaksanakan pada tanggal 22 September 2012 dipusatkan di Kecamatan Randangan.
Jenis kegiatan yang dilaksanakan yaitu “Lomba dan Pameran Photo” dengan tema “Pohuwato Tercinta” dengan issu social,pembangunan dan masalah umum ini, berhasil mempresentasikan 50 (limapuluh) buah karya photo pada pameran photo dan melahirkan 4 photographer/photo terbaik pada lomba photo.
Berikut hasil lomba photo yang diselenggarakan mulai tanggal 19-20 September 2012 dengan lokasi di wilayah Kabupaten Pohuwato :
  1. Terbaik I : M.S Halid ,judul Photo “ Dibalik Terik, dibalik rezeki”,MFG
  2. Terbaik II : Ade Priyatna , judul photo “Kampoeng Nelayan”,Blit[z]
  3. Terbaik III : Worang Daud , judul Photo “Menulis Impian”,Blit[z]
  4. Terbaik IV : Guntur Lahatie , judul photo “mencungkil rezeki”,Boalemo Photographer
Selengkapnya, hasilnya dapat dilihat disiniSelamat untuk pemenang, sukses dalam berkarya , sampai jumpa pada event Bl!t[z] selanjutnya !! :D


Ada seorang wanita buta. Semua orang membenci dia, kecuali kekasihnya. Wanita itu selalu berkata, “Saya akan menikahimu saat saya bisa melihat!” Suatu hari, ada orang mendermakan mata kepada wanita itu. Akhirnya wanita itu dapat melihat

Dengan segera, dia pergi menemui kekasihnya. Tetapi, ketika dia melihat kekasihnya, dia merasa sungguh terkejut karena kekasihnya juga buta. Kekasihnya bertanya, “Sudikah kamu menikah denganku sekarang?”

Tanpa sebuah alasan, wanita itu menolak. Kekasihnyapun tersenyum dan berlalu pergi sambil berkata. “Tolong jaga mata saya baik-baik…




Simpulkan sendiri ceritanya ya? Menurut Anda? Komentarnya dong...

http://forum.pohuwato.info

BLITZ
Setelah menjalani beberapa tahapan agenda sidang yang dipimpin oleh Sonni Samoe dan Rony Mile , komunitas Fotografer Pohuwato “blitZ” akhirnya berhasil menetapkan Worang Daud sebagai Ketua Umum periode 2012-2014 pada sidang Musyawarah Ke-I yang dilaksanakan selama 2 (dua) hari yaitu pada tanggal 21 dan 26 Juni 2012 yang  bertempat di Auditorium Bappeda Kabupaten Pohuwato.


Sementara itu musyawarah yang dihadiri oleh 25 orang ini, dilanjutkan dengan rapat formatur oleh ketua terpilih dan sekaligus mengangkat Wakil ketua yaitu Roney Mile, sekretaris yaitu Rival Habu dan bendahara Moh.Ilham Kiayi. Dan untuk kelengkapan bidang-bidang dan program kerja akan ditetapkan pada Rapat Kerja ke-I yang rencananya akan dilaksanakan tanggal 4 Juli 2012 . 
Dalam sambutannya , ketua terpilih Worang Daud yang kesehariannya dikenal sebagai pengajar di SMA Negeri I Buntulia dan sekretaris PMI Kabupaten Pohuwato menyampaikan bahwa tujuan pembentukan komunitas fotografer pohuwato “blitZ” ini diantaranya yaitu sebagai wadah tukar informasi sesama anggota, kerjasama dengan sesama komunitas lainnya serta membantu Pemerintah Daerah dalamrangka penyebarluasan informasi khususnya melalui fotografi.
Worang juga menambahkan bahwa komunitas atau organisasi ini menaruh harapan  besar bahwa “blitZ” dapat diterima keberadaannya dimasyarakat serta memberikan kontribusi positif bagi pemerintah daerah sesuai yang diamanahkan oleh AD/ART dan tujuan organisasi.
“Kami berharap pula kepada teman-teman khususnya di Kabupaten Pohuwato yang memiliki dan minat/hobbi dibidang fotografi untuk dapat bergabung bersama dalam rangka pengembangan komunitas yang mempunyai Motto “ ONE SHOOT ONE IMAGE” ini kedepan,”jelasnya. (photo ilustrasi- gregghorstphotography(dot)com)
Gbr : http://esatrio.blogspot.com/
Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat. Ia hampir menyerah dan tidak tahu bagaimana menghadapinya. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru. Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya. Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajak mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.
Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?” Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut. “Kamu termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?” Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, Anda menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatan. Apakah Anda telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah Anda menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku? Ataukah Anda adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika Anda seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, Anda akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitar Anda juga membaik. Ash/Berbagai sumber
www.pohuwatoforum.net
Ilustrasi
Yang. Pertama
Hari kemarin
Kau tak bisa mengubah apapun yang telah terjadi
Kau tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan
Kau tak mungkin lagi menghapus kesalahan dan
Mengulangi kegembiraan yang kau rasakan kemarin
Biarkan hari kemarin lewat
Lepaskan saja


Yang kedua
Hari. Esok
Hingga mentari esok hari
Kau tak tahu apa yang akan terjadi
Kau belum bisa melakukan apa apa
Untuk esok hari
Kau tak mungkin tahu......sedih atau
Ceria di esok hari
Karena esok hari belum tiba
Biarkan saja......


Tang tersisa kini hanyalah. :

Hari ini
Pintu masa lalu telah tertutup
Pintu masa depanpun belum tiba
Pusatkan saja dirimu untuk hari ini....
Kau dapat mengerjakan lebih banyak hal
Untuk hari ini
Bila kau mampu melupakan hari kemarin....
Dan melepaskan ketakutan akan esok hari....


Hiduplah hari ini
Karena masa lalu....dan masa depan ....
Hanyalah permainan pikiran yang rumit

Hiduplah apa adanya......
Karena yang ada hanyalah hari ini
Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati....
Dan rasa hormat....
Meski mereka berlaku buruk kepadamu


Sayangilah seseorang sepenuh hati hari ini....
Karena mungkin besok.....
Cerita sudah berganti....

Ingatlah bahwa kau menunjukkan
Penghargaan pada orang lain....
Bukan karena siapa mereka.....tetapi
Karena siapakah dirimu sendiri.....


Jadi...jangan biarkan masa lalu mengekangmu.......
Atau masa depan membuatmu...bingung

Apapun juga yang kau perbuat..
Perbuatlah dengan segenap hatimu
Sepenuh jiwa ragamu


Berterima kasihlah pada orang yang
Telah melukai hatimu, karena dia
Telah membuatmu kuat



Berterima kasihlah pada orang yang
Telah membohongimu,karena dia
Membuat hidupmu makin bijaksana


Berterima kadihlah pada orang yang
Telah membencimu, karena dia yang
Mengasah ketegaranmu


Dan berterima kadihlah pada orang ysng telah
Menyayangimu karena itulah
Anugerah terindah dalam hidupmu

By. Rahmiyati jahja
www.pohuwatoforum.net
Internet dan perkembangannya, khususnya di Kabupaten Pohuwato dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Setidaknyaa trafik penggunaan bandwidth internet Pemkab Pohuwato dan eksistensi warnet serta frekuensi pengunjung dapat dijadikan rujukan, betapa trend penggunaan intenet didaerah ini maju pesat. Indikasi ini kiranya dapat mendukung pendapat / tulisan yang pernah ditulis oleh Bung Ade P.H sang pengendali server internet Pemkab Pohuwato yang pernah dipost di Forum ini.
Kondisi objektif diatas tentulah mutlak didukung oleh infrastruktur memadai serta kebijakan ekstra yang menjadi pondasi unutk pengembangan internet di kabupaten pohuwato.
Menurut informasi seputar pengembangan internet di Pemkab Pohuwato yang dirilis pada media Bappeda Pohuwato ( http://bappeda.pohuwatokab.go.id ), bahwa Implementasi gradualisasi konkrit telah ditempuh Pemkab dengan dialokasikan bandwidth 2 mb dan proses penyusunan Rencana Induk Pengembangan teknologi informasi pada tahun ini.
Mengingat terobosan pemkab, sehngga bisa berdampak pada berkembangnya SDM didaerah ini, setidaknya :
  1. Kemarin tidak bisa komputer, hari ini bisa walaupun sebatas Facebook-kan, games dan mainkan lagu/mp3. Dan fakta ini telah ditunjukan oleh salah satu tenaga OB di Kantor Bapeda yang termotivasi dengan membeli Laptop untuk mengisi waktu luangnya.
  2. Kemarin , mengirim dan terima surat menggunakan lembaran kertas, hari ini kirim dan terima lewat email. Dan fakta inipun, sedikitnya telah ditempuh oleh Administrator Media Online Pemkab Pohuwato saat memintakan data profil masing-masing SKPD dikirimkan lewat email atau softcopy. Walaupun sampai saat ini beberapa SKPD belum mengirimkan.
  3. Kemarin, informasi dan pemberitahuan yang sifatnya mendesak masih harus menunggu lembaran kertas, hari ini bisa diklik di halaman website masing-masing SKPD seperti Website Pemkab , Bappeda, BKPPD, Disperindag,Dinas PU,SKB dan Satpol. Dan fakta inipun perlahan telah ditempuh oleh BKPPD Pohuwato dalam menyebarkan informasi tentang Cuti Bersama pada tanggal 16 Mei 2011.
Pernahkan kita menyadari pentingnya sebuah email dan eksistensi website bagi Pemerintahan Khususnya ?. Pertanyaan ini sesungguhnya tidak bermasud men-justifikasi atau ‘Po jago-jago’ kata Orang Gorontalo, tapi setidaknya kita bisa berkaca pada Pengalaman Kunjungan Kerja dalamrangkan Studi banding Anggota DPR-RI ke Australia ketika ditanyakan perihal email oleh mahasiswa disana. Bagi yang belum pernah baca, klik informasinya disini.
Menyinggung masalah email dan website, beberpa poin berikut dapat dijadikan pengetahuan :
  1. info@pohuwatokab.go.id | bappeda@pohuwatokab.go.id | satpol@pohuwatokab.go.id adalah alamat dan pola penulisan resmi sebuah email yang dikhususkan untuk instansi resmi pemerintahan. Dan kata setelah tanda “@” menunjukan website induknya.
  2. priyatn@ymail.com | roney-x@rock.com | ifoelcavalery@gmail.com dan rivalganteng@gmail.com , adalah email personal yang sifatnya pribadi yang bisa didapatkan secara gratis.
  3. www.pohuwatokab.go.id | www.bappeda.pohuwatokab.go.id | www.bkdpohuwato.info | www.satpol.pohuwatokab.go.id | www.skb.pohuwatokab.go.id | www.pu.pohuwatokab.go.id dan www.umkm.pohuwatokab.go.id , adalah alamat website resmi instansi Pemerintahan resmi khususnya dilingkungan Pemkab Pohuwato.
Kita semua tentu berharap, informasi yang sedikit ini bisa menambah pengetahuan perihal seputar internet, sehingga salah kaprah atau image “ pukulribut “ terhindari.
Semoga kita terhindar dari menuliskan alamat : www.mobilkeren@yahoo.com , seperti yang pernah melabeli body samping salah satu mobil avanza di daerah kota gorontalo.